AGAR HATI SELUAS SAMUDERA
(Oleh: DA. Setiawan)
Seorang ulama terkenal, Ibnu Qayyim Al-Jauzi, pernah mengatakan bahwa banyak faktor yang dapat mendatangkan kelapangan dan kedamaian dalam hati. Faktor-faktor itu antara lain:
1. Tauhid
Besar-kecilnya kedamaian dalam hati seseorang bergantung pada seberapa besar kemurnian dan kesucian iman. Seseorang yang menyekutukan dan mengingkari Allah, hati dan jiwanya pasti akan sempit. Tak ada setitik cahaya pun yang menerangi hatinya. Gelap dan perlahan hati dan jiwanya menjadi mati. Renungkanlah Firman Allah berikut:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا
“Dan orang yang berpaling dari peringatanKu, maka sesunggunya baginya kehidupan yang sempit…” (QS. Thaaha: 124)
سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ
“Kami akan masukkan dalam hati orang-orang kafir itu rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah…” (QS. Ali Imran: 151)
2. Ilmu yang bermanfaat
Hal ini dapat menjadi factor lain untuk mendatangkan kedamaian dalam hati. Bukankah para ulama (salah satu sumber ilmu) merupakan orang-orang yang damai dan tenang hatinya? Jadi sempatkanlah dan luangkanlah waktumu untuk selalu belajar segala ilmu yang telah Allah bentangkan bagi kita. Janganlah pernah lelah dan jangan pernah surut langkah dalam menapaki jejak para pencari ilmu.
3. Amal Shaleh
Ilmu dan amal adalah dua hal yang tak terpisahkan. Ilmu akan menjadi sia-sia jika tidak diiringi dengan amal. Sebaliknya, amal pun menjadi tidak bernilai jikalau dilakukan tanpa landasan Ilmu yang benar. Amal yang berlandaskan ilmu akan mampu menjadi cahaya bagi hati. Cahaya yang mampu memberikan ketenangan dan kedamaian dalam jiwa. Seperti matahari yang setia menjadi bagi angkasa yang membentang.
4. Meninggalkan kemaksiatan
Segala bentuk kemaksiatan identik dengan kesuraman, kegelapan dan keterasingan. Kemaksiatan merupakan pertanda telah kotornya hati akibat tumpukan dosa-dosa. Renungkanlah syair yang sangat indah berikut:
“Dosa-dosa mematikan hati, dan dalam kesinambungannya mendatangkan nista…”
5. Tidak melampaui batas
Seringkali kita melampaui batas dalam segala hal, baik dalam hal kebaikan maupun keburukan. Cobalah renungkan keseharian kita! Cara kita makan, berpakaian, ataupun berbicara. Sudah sesuaikan dengan petunjuk Allah dan tuntunan Rasulullah? Ataukah justru kita terlalu berlebihan dalam menjani semuanya? Perhatikanlah Firman Allah berikut:
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Hai Anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raaf: 31)
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Al-Qaaf: 18)
Semoga Allah senantiasa memudahkan kita dalam menjaga serta memelihara ketenangan dan kedamaian hati. Amiin…
A nice blog. Benar-benar mencerahkan…Semoga Allah senantiasa melapangkan dan mendamaikan hati segenap kaum muslimin…