PESAN RINDU

PESAN RINDU

Cinta,

Pinjami aku pena hatimu

Ingin ku tulis

Sebuah pesan untuk sahabatmu: Rindu!

Engkau adalah sebait pagi pada sajak malamku. Engkau adalah selaksa cahaya di gelap langit hatiku. Engkau telah kujadikan setangkai bidadari di taman surgaku. Engkau, kesempurnaan jiwaku…”

Cinta,

Uluri aku tangan kasihmu

Ingin ku ukir

Sebuah prasasti untuk perempuanku

Biarlah senja karam di atas ombakmu. Engkau tetap berlayar bersama biduk hatiku. Biarlah matahari tenggelam di garis pantaimu. Engkau tetap memijak tanah jantungku. Biarlah bintang menghujam atap-atap malam. Engkau tetap bersandar di palung hatiku.”

Cinta,

Beri aku warna-warnimu

Ingin ku goreskan

Sebuah pelangi untuk labuhan jiwaku

“Tak terhitung berapa kali embun pagi tetesi hari. Dirimu, satu di hatiku. Tak terbilang seberapa terang matahari sapu bumi. Hatimu terendap dalam jiwaku.”

Cinta,

Berdua, kita harus bicara.

9 Oktober 2006 (DA. Setiawan)

Published in: on 2 Agustus 2009 at 6:18 am  Komentar (1)  

TARIAN LENTERA

thumbnailCAUQY3RSTARIAN LENTERA

Oleh: Dwi Agus Styawan

Matahari mengkilat di atas langit kota. Terik menimpa hampa. Dalam gelap jiwa, cahaya bintang menari. Tari lentera. Tak ada nada yang mengiringi. Tak ada suara atau pekik Sang penari. Hanya rasa yang perlahan menyandera jiwa. Terang di ujung lentera Sang penari bergetar. Mengusir gelap di sekujur ruang pengap yang membekap. Dinding-dinding ruang membujur tegak. Seperti pohon-pohon yang berdiri membelah pagi. Dinding-dinding ruang bergemuruh. Teriakkan kata penuh angkuh. Mereka berontak terhadap segala peluh. Seperti senja yang hendak bersanding dengan malam. Mengurai sebuah kisah tentang kelam buai terang. Tapi, kidung Sang penari tetap berpendar. Dan lentera tak henti berpijar. (lagi…)

Published in: on 2 Agustus 2009 at 6:16 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

SAJAK KEMATIAN

Kematian adalah sebuah harapan akan masa depan. Kematian bukanlah akhir perjuangan. Kematian hanyalah bentuk penyerahan, adalah bukti kepasrahan dan kekalahan. Pada akhirnya kematian adalah kehidupan.

Malam semakin suntuk. Langit terlalu pekat untuk diarungi gugus bintang. Sementara waktu terus menindih. Menutup kisah kasih makhluk bumi. Melelapkan hari dalam dekap mimpi. Dan jarak semakin jauh membentang. Memisahkan ruh dari raga, untuk kemudian dihujamkan pada jurang imaji. Segalanya terjadi hingga matahari melukis pagi. (lagi…)

Published in: on 2 Agustus 2009 at 6:13 am  Komentar (1)  

DAN BERLINANGLAH AIR MATA…

Dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang siaga karena berjaga-jaga (ketika berjihad) di jalan Allah.” (HR. At-Tirmidzi)

Menangis…tentu engkau pernah melakukannya. Dalam setiap episode kehidupan kita sebagai manusia, tak terhitung berapa kali kita menangis. Di masa kecil, kita pernah menangis akibat terjatuh. Beranjak remaja, ada tetes-tetes air yang menetes dari dua sudut mata kita tatkala sang kekasih hati berpaling. Setelah dewasa, kita pun sempat menitikkan air mata kala musibah menyapa kehidupan kita.

Wahai saudaraku, kini renungkanlah: pernahkah kita menangis karena takut kepada Allah? Adakah tetes-tetes air mata yang keluar, ketika kita mengingat dosa-dosa yang pernah kita lakukan? Dan sempatkah kita menitikkan air mata kala lisan ini melafadzkan firman Sang Pencipta…? (lagi…)

Published in: on 2 Agustus 2009 at 5:51 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.